Featured

dark rose

Ini adalah kutipan pos.

Iklan

life,..

live in the garden..

garden of life

never see through the angel wings

it’s broken in the human hands

a bloody hands

still…i want that rose

the dark rose of life

 

 

istriku

Kutiup lapisan debu dari album tua di tanganku. Warnanya biru kusam dimakan usia. Tersimpan rapi di ujung lemari. Saat kubuka, sebuah senyum manis menyambutku. Senyum dari sesosok gadis kecil bermata jernih. Mata yang sama yang selalu menyambutku dengan senyum yang sama disaat aku membuka mata di pagi hari. Ku buka lagi lembar-lembar berikutnya, dan senyum serupa namun kaya warna memenuhi hatiku. Rasanya begitu bahagia hingga terasa sesak.

#

Saat itu, permukaan air yang menghantamku terasa sedingin es. Tubuhku beku. Hatiku beku. Air kotor ini rasanya tak semenjijikkan tubuhku. Semakin dalam, Semakin dingin, semakin sakit, kurasakan hatiku menangis. Tuhan, kasihanilah aku. Hukum aku sekedarnya. Aku hanya semakin jijik pada tubuh ini. Tuhan, mengapa kau meninggalkanku? Tuhan…

Sepasang tangan menarikku dalam pelukannya, tangan yang hangat. Menarikku keluar dari dasar sungai yang kotor itu. Saat kubuka mataku, dia tergambar di mataku hingga ke hatiku. Seperti saat ini.

“Sedang apa?” tanya nya lembut. “Bersih-bersih” jawabku singkat sembari kembali membuka halaman album tua itu. “Sayang, kok sedih? fotoku jelek ya, hahahaha…maaf dah tomboy banget dari kecil” lanjutnya sembari ikut melihat foto-foto masa kecilnya. “Kamu gak berubah dari dulu, cantik!..mata ini..” akupun menatap mata indah itu “Mata ini adalah cahayaku” ucapku sembari membingkai matanya dengan tanganku. Mata ini milikku, cahayaku. senyumnya merekah seindah bunga “Dasar aneh, kiss dulu sini” oloknya sembari mengecup lembut bibirku. “Aku berangkat dulu ya, jangan berantakin fotonya, hahahaha..” pamitnya sembari sembari mengecup bibirku. Aku hanya mengantarnya dengan senyuman hingga dia menghilang dibalik pintu. Tuhan, apa pantas aku mendapatkan malaikat sepertinya…

#

Aku memandang ibu dan ketiga kakak perempuanku yang sibuk berdandan dengan penuh minat. Ayahku telah tiada kata ibuku. Walau semua orang bilang aku memang tidak punya ayah. Mereka terlihat cantik dengan lipstik merah dan baju penari yang gemerlapan. Mereka disukai semua orang karena pandai menari. mereka akan dimanjakan oleh para lelaki yang menari bersama mereka. Aku ingin seperti mereka.

Tak sadar aku berjalan menuju meja rias, mengambil lipstik merah merona itu dan mencoba-coba dengan kikuk memoleskannya di bibirku. Aku melihat diriku dicermin. dan aku terpana. Aku terlihat … berbeda. Tiba-tiba pintu terbuka dan kakakku masuk. Aku terperanjat dan refleks berbalik sembari menyembunyikan lipstik di tanganku ke belakang tubuhku. Mata kakakku terbelalak, sedetik kemudian dia tertawa terpingkal-pingkal dan memanggil dua kakakku yang lain serta ibuku. Semua kakakku tertawa kesenangan sembari mengejekku, tapi ibuku benar benar terlihat jijik padaku. Dengan kasar ia menghapus sisa lipstik di wajahku. Sejak itu semuanya berubah, kakakku semakin genjar menjahiliku dengan selalu mendandaniku dengan riasan dan baju penari. Sedangkan ibu hanya diam, namun terlihat semakin jijik padaku. Aku hanya menurut, hingga aku dewasa dan petualanganku yang nantinya akan kusesali seumur hidupku dimulai.

#

“Man, aku sayang kamu Man.” ucap kakak kelasku di SMA yang menyeretku ke gudang saat pulang sekolah. Tangannya mulai menggerayangi tubuhku. “Jangan kak, nanti ada orang yang liat, kita kan sama-sama cowok kak.” tolakku yang tak sepenuh hati. Kakak kelasku ini sangat berkharisma, diam diam aku sering memandanginya, apalagi saat dia bermain basket. “Man, aku tau kamu suka padaku. aku sering melihatku menatapku saat olahraga. Man, ijinkan aku Man..” ucapnya dengan nafas yang telah memburu, sejurus bibirnya yang mulai melumat bibirku. rasanya aneh menjalari tubuhku. dan kakak kelas pun berganti menjadi guru yang tampan, teman ke club, dan akhirnya dengan siapapun. aku terjerumus dunia gelap pergaulan bebas. Hingga akhirnya semua menjadi semakin memuakkan. Aku tak sanggup menahannya. Aku merasa jijik pada tubuhku. Aku menggosoknya,.. menyikatnya,.. berulang kali,.. tapi rasa menjijikkan itu tak kunjung hilang. Aku butuh air yang banyak. Seperti sungai ini. Air sungai yang kotor. Kotor sepertiku.

Sepasang tangan hangat memelukku dari belakang. Aku tersentak dan menoleh. Senyum itu memerangkap mataku. Hatiku teriris oleh kebahagiaan. Aku berbalik menghadapnya. “Kenapa kembali?” dia memelukku lebih erat seraya membenamkan kepalanya di dadaku. Aku mengecup puncak kepalanya lembut. Menyusuri rambut halusnya dengan tanganku. “Hatimu memanggilku kembali” jawabnya yang langsung diucapkannya ke dadaku, menembus hatiku. “Terimakasih” ucapku bergetar, air mataku menetes. Mata indah itu kini menatapku, “Terimakasih telah mencintaiku yang seperti ini” lanjutku. Dia tersenyum dan berjinjit mengecupku. “Terimakasih juga telah memberikan hatimu padaku, Man.” ucapnya. “Aku bersyukur kamu terjun ke sungai malam itu, hingga aku bisa menyimpanmu untuk diriku sendiri. Kamu milikku, Man.” lanjutnya. Kata-katanya seolah meremas hatiku, akhirnya aku milik seseorang. Aku terisak. “yee…malah nangis. masa yang nangis suaminya, bukan istrinya. gak malu?” oloknya. Aku semakin terisak. Dia akhirnya memeluk tubuhku. Hangat. Tuhan, terimakasih telah mengirimkan wanita ini untukku. Istriku. Milikku.

#

 

jelaga

Wanita² mereka menyebut kami…

Wanita terkutuk, itulah kami. kami mereguk cinta dari tempayan yang salah, tapi mungkin juga kami telah memberikan cawan cinta pada lelaki yang seharusnya. Kami telah merebut mereka dari wanita² mereka.
mungkin mereka tidak salah, karena wanita² mereka tidak memuaskan mereka seperti kami memuaskan mereka. Tapi mungkin kamilah yang salah karena mampu lebih memuaskan mereka. Semua serba mungkin, semua serba tak pasti. Yang pasti, yang manapun tetap memuaskan kami. kami butuh mereka untuk cawan cinta kami yang mulai kadaluarsa, busuk dan berbelatung. Bukannya kami tidak paham pada kemarahan wanita² mereka pada kami. Namun wanita² mereka tidak memahami kami, jadi kamipun berhenti memahami mereka.
Suatu kali mereka akan menuntut,”enak bukan?” katanya. kami hanya akan mengerling manja tanpa cela. Namun kadang bau apak dan liur anjing memang tiada tertahan. Kamipun beralasan palang-merah namun sering kali kami tambah sungguh berdarah². Bajingan!. arena itu kami akan selalu mencoba enak, agak mereka jadi keenakan dan akhirnya kamipun sama² enak dan keenakan. karena kami tidak bodoh dengan menganggap mereka tidak bodoh, jadi kami sering membodohi mereka. Salah sendiri mereka tidak mendengar wanita² mereka.
Dalam menjalani tugas kami menjadi makhluk terkutuk, kami membentuk sebuah komunitas, semacam partai mungkin. Partai kaum terkutuk. Dalam partai ini kami melakukan semacam program² untuk memperlancar penjualan cawan cinta yang kadaluarsa. Kami tidak menjual cawan cinta segar dan murni, akan membuat kami gerah dan tidak nyaman pada keterkutukan kami. Kami akan depresi. Ujungnya kami akan membunuh diri kami dengan menjadi wanita² mereka lalu menjerit meraung karena mereka memiliki makhluk terkutuk.
Masalah kutuk mengutuk, kami anggap ini bukan takdir. Mereka dikutuk karena bodoh, wanita² mereka dikutuk karena ceroboh, tapi kami dikutuk karena tidak bodoh dan ceroboh. Kami adalah aktris antagonis yang membuat panggung sandiwara ini semakin menarik. tapi kadang kami juga bodoh dan ceroboh. lalu kami bunting, lalu akan beranak dan berpinak. kemudian akan ada pilihan lagi apakah ingin jadi bodoh atau ceroboh.
Kami akan hamil dan melahirkan. Kadang juga keguguran oleh suatu sebab, disengaja atau tidak, berdasarkan pertimbangan yang menguntungkan. Anak² kami biasanya cukup normal saat lahir, hanya kami yang akan mulai gila karena paranoid pada kelangsungan regenerasi kami selanjutnya. jika anak mereka wanita, bisa menambah jumlah stok kami. jadi sesama kami atau mungkin wanita² mereka. lebih baik jika jadi sesama kami. karena sulit dibayangkan jika anak mereka nantinya akan jadi wanita² mereka. Bikin stres kami.
Hal yang lebih memusingkan adalah jika anak mereka akan menjadi mereka dan akan memiliki kami nantinya sungguh sangat tidak mengenakkan jika tahu bahwa mereka adalah anak² bodoh kami. ironis bukan? kadang kami lupa siapa yang meniduri kami, mereka mungkin anak² kami untuk mereka. Entahlah, yang pasti kami terkutuk namun kami tidak mengutuk. Lingkaran setan kami, wanita² mereka karena mereka memiliki kami. Kami yang lain.

Diposting oleh riways di 21.25   Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke Tw

hujan malam ini

Hujan datang kembali, rasa mual itupun turut menyertai. “maaf, aku sudah tidak menyukaimu lagi. Jadi hentikan saja mencoba untuk membuatku mencintaimu.”pertama kali yang kurasakan saat itu adalah bau bangkai yang menyeruak bersama hujan.

Andaikata ini adalah sebuah adegan film romantis, mungkin akan ada musik yang mengharubiru. Namun yang ada ditelingaku adalah makianku pada bangkai yang menebar aroma busuk ini. Bangkai yang kau buang dipinggir jalan itu.

Aku menghisap rokokku sekali lagi, rasanya tetap tidak seenak biasanya. Ada yang salah dengan bibir ini. Bibir yang menciummu dengan putus asa. Baumu tetap tidak mampu membuatku bernafsu untuk mengendusmu kembali. Bau maskulin mu yang tak mampu dilarutkan dalam hujan waktu itu, kenapa justru itu yang diingat bibir ini. Ada yang salah dengan rokok ini.

“kenapa kau berubah menyedihkan seperti ini?” tuntutmu saat ini.

Aku hanya mampu menyeringai. Sungguh aneh. Kenapa sedikitpun aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan.

 “ kemana orang yang dulu sangat menyukaiku? Siapa kau yang memendangku seakan aku wabah penyakit?!”

ya Tuhan,…siapa lagi dia?

Kulangkahkan kakiku menyusuri jalan setapak di tepi perkampungan kumuh surabaya. Jika kau ingin tahu, carilah sungai terbesar di kota ini, susuri jalan kecilnya lalu masuklah pada gang sempit menurun yang jadi langganan banjir. Temukan sebuah rumah 3X4 yang bertingkat dua dengan cat merah lusuh. Itulah rumahku saat ini.

Bila kau beruntung kau akan bertemu dengan ibuku, dia biasa mencuci di depan rumah, di pinggir kali, tapi mungkin kau tidak akan mampu melihatnya di tumpukan baju kotor milik tetanggaku yang seenaknya saja menimbun cucian itu untuk balas budi uang recehan yang mereka berikan.

Namun bila tak beruntung kau akan bertemu dengan bapakku. Dia biasa mabuk dipinggir kali dengan wanita recehan, yang beberapa waktu lalu menghanyutkannya, di tengah kali.

Saat memandang tubuh kakunya, yang kupikirkan pertama kali adalah ibuku yang sedang mencuci di pinggir kali. Mungkinkah ini semacam tanda cintanya pada bapakku. sekarang mungkin bapakku akan selalu menemaninya mencuci di pinggir kali.

Kurebahkan tubuhku pada kasur yang suka berderit ini, deritannya mengingatku pada jeritanmu saat bercinta. Ah, bau bangkai itu kembali lagi. Rasanya basah dan menjijikkan.  Entahlah, aku malas mengepel lantai .

 #

Kita bertemu lagi saat gerimis yang panjang sepanjang hari ini. Ah, lihatlah dirimu yang sangat manis dengan baju putih itu. Sudah berkali-kali kukatakan, kau adalah malaikat yang mulia.

“tidak ada malaikat di dunia ini, yang adalah setan putih berbedak.”

Aku tetap merasa kau adalah malaikat yang berbedak.

“ kenapa kau mencintai seseorang seperti itu? Aku memang menyukaimu, tetapi aku tidak mencintaimu seperti itu”

dan apakah aku perduli dengan anggapanmu itu, jika aku peduli, maka kau tak akan ada disini bersamaku. Memakai baju yang cantik dan minum teh yang enak ini. Dirimu akan berlayar jauh, terbang bersama kekasihmu itu.

“ sungguhpun begitu, tidakkah kau merasa terganggu jika yang ada bersamamu ini adalah bangkai tak berjiwa yang sedang tersenyum palsu.”

 Aku memang sering memikirkannya dalam doa-doa panjangku, jika jawaban yang ada adalah bayanganmu saja, maka apa yang dapat aku lakukan. Bukankah ini akan jadi semacam takdir?

 “ doa-doa tidaklah berarti jika yang kau paksakan adalah daya khayalmu saja”

daya khayalku adalah dirimu, jadi sudahi saja .

“ tidak ada yang dapat disudahi dari sesuatu yang tidak pernah dimulai”

#

 Hari itu aku melihatmu dengannya.

 “iya, hari itu memang aku bersamanya.”

 Saat malam tiba aku selalu bertanya, apakah kau bersama dengannya?

 “ saat malam tiba aku tidak pernah bersamanya. Sungguhpun jika malam itu aku bersamanya, hal itu sama sekali bukan urusanmu. Aku ingin malam adalah milikku sendiri. Sehingga aku dapat memilih dengan bebas ingin bersama siapa.”

Apakah kau bersamaku saat malam itu tiba.

“ kau tidak berhak sama sekali menentukan keberadaanmu pada malam-malamku. Hal itu adalah hak mutlakku.”

Apakah kau bersama dengannya saat tidak bersamaku?

 “ memangnya aku bersama siapa lagi”

#

Kuhisap rokokku dalam-dalam. Rasanya masih tidak enak. Aku kembali banyak memikirkanmu saat musim penghujan datang. Bau bangkai yang menyeruak memang sangat menyesakkan. Namun keberadaanmu yang seperti adamu itu terasa lebih kuat menghantuiku. Mungkin seperti bangkai yang kutemui di mana-mana itu. Aku terasa menjadi bangkai itu sendiri. Aku menguap. Aku mengkristal. Entah seperti ayahku yang hanyut bersama wanita receha atau seperti ibuku yang membunuh keberadaannya dengan seseorang yang lebih mencintai wanita recehan. Aku banyak memikirkan hal ini dalam berbagai makian yang panjang. Bersama denganmu rasanya seperti menelan bangkai cinta ini bulat-bulat. Entah kenapa dulu aku tidak membiarkanmu terbang jauh saja dengan kekasihmu itu. Karena pada akhirnya yang kau sisakan dari tubuhmu adalah bau ayahku. ##